Iklan -- Scroll untuk lanjut membaca
Advertisement

Kadin Jatim Cetak Fasilitator JOA, Kurikulum Pendidikan Vokasi Bakal Disusun Sesuai Kebutuhan Industri

Kadin Jatim Cetak Fasilitator JOA, Kurikulum Pendidikan Vokasi Bakal Disusun Sesuai Kebutuhan Industri
Kadin Jatim Cetak Fasilitator JOA, Kurikulum Pendidikan Vokasi Bakal Disusun Sesuai Kebutuhan Industri

PEWARTA JATIM — Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Jawa Timur bersama Swiss Foundation for Technical Cooperation (Swisscontact) dan Kadin Institute mengambil langkah baru untuk memperkuat kualitas pendidikan vokasi melalui pembentukan fasilitator Job and Occupational Analysis (JOA).

Program tersebut diwujudkan lewat pelatihan Industry-based Curriculum (IBC) yang berlangsung di Surabaya pada 29 Juni hingga 3 Juli 2026. Inisiatif ini diarahkan untuk memperkecil kesenjangan kompetensi antara lulusan pendidikan vokasi dengan kebutuhan nyata di dunia industri.

Para fasilitator yang dilatih nantinya diharapkan mampu menjadi penghubung antara sektor pendidikan dan dunia usaha, sehingga penyusunan kurikulum benar-benar didasarkan pada kebutuhan lapangan kerja.

Fasilitator JOA disiapkan sebagai penyusun analisis pekerjaan

Pelatihan tersebut menjadi tahap awal dalam mencetak tenaga fasilitator yang memiliki kemampuan melakukan analisis terhadap berbagai jenis pekerjaan atau jabatan secara mendalam.

Analisis yang dilakukan mencakup tugas dan tanggung jawab pekerjaan, kompetensi yang diperlukan, tren kebutuhan profesi di masa depan, persyaratan dasar, hingga berbagai aspek lain yang berkaitan dengan kemampuan seorang tenaga kerja.

Senior Program Officer VET Development Swiss Foundation for Technical Cooperation (Swisscontact), Ilham Hasbiullah, mengatakan fasilitator yang mengikuti pelatihan akan memiliki peran penting dalam menghasilkan dokumen analisis okupasi yang nantinya menjadi fondasi penyusunan kurikulum pendidikan vokasi.

"Fasilitator nanti akan mampu mengembangkan analisis tentang sebuah okupasi yang menyangkut tugas dan tanggung jawab pekerjaan, kompetensi yang dibutuhkan, tren pekerjaan di masa depan, basic requirement, hingga berbagai informasi lain yang berkaitan dengan kompetensi seorang pekerja," ujar Ilham.

Kurikulum diharapkan lahir dari kebutuhan industri

Ilham menjelaskan, hasil Job and Occupational Analysis akan dimanfaatkan sebagai acuan dalam penyusunan kurikulum pada berbagai jenjang pendidikan, mulai dari Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), perguruan tinggi, hingga lembaga pelatihan kerja.

Melalui pendekatan tersebut, materi pembelajaran diharapkan lebih relevan karena disusun berdasarkan kompetensi yang benar-benar dibutuhkan dunia usaha dan industri.

Menurutnya, selama ini penyusunan kurikulum umumnya diawali oleh institusi pendidikan sebelum kemudian divalidasi oleh pihak industri. Pola tersebut dinilai menjadi salah satu penyebab masih terjadinya kesenjangan kompetensi atau skill mismatch antara lulusan dan kebutuhan perusahaan.

"Kalau kita ingin mengurangi skill mismatch, maka prosesnya harus dibalik. Analisis pekerjaan dilakukan terlebih dahulu di industri, baru hasilnya diterjemahkan menjadi kurikulum. Jadi kurikulum benar-benar lahir dari kebutuhan industri, bukan sebaliknya," katanya.

Pendekatan tersebut diharapkan mampu membantu mengurangi kesenjangan kompetensi yang selama ini turut berkontribusi terhadap tingginya angka pengangguran lulusan pendidikan vokasi, khususnya SMK.

Meski demikian, Ilham menegaskan bahwa persoalan pengangguran tidak hanya dipengaruhi oleh kurikulum, melainkan juga dipicu oleh berbagai faktor lainnya.

Menentukan porsi belajar di sekolah dan industri

Selain menjadi dasar penyusunan kurikulum, hasil JOA juga dimanfaatkan untuk menentukan pembagian materi pembelajaran antara institusi pendidikan dan dunia industri.

Melalui analisis tersebut dapat diketahui kompetensi yang cukup dipelajari di sekolah maupun kompetensi yang sebaiknya diperoleh melalui praktik langsung di perusahaan.

"Melalui JOA kita juga bisa menentukan kompetensi mana yang cukup diajarkan di sekolah dan kompetensi mana yang harus dipelajari langsung di industri. Ini akan memperkuat implementasi sistem pembelajaran ganda atau dual system," jelasnya.

Peserta mendapatkan teori hingga simulasi lapangan

Pelatihan angkatan pertama ini diikuti oleh 10 peserta yang berasal dari unsur industri, perguruan tinggi, dan pemerintah.

Selama lima hari pelaksanaan, peserta memperoleh materi mengenai metode Job and Occupational Analysis, teknik menggali informasi dari narasumber industri, penyusunan dokumen hasil analisis, hingga simulasi praktik sebagai fasilitator maupun panelis industri.

Ilham mengungkapkan, hingga saat ini tim pelaksana telah menyelesaikan sekitar 80 analisis Job and Occupational Analysis di berbagai sektor melalui kolaborasi dengan Kementerian Perindustrian serta sejumlah mitra.

Pelaksanaan pelatihan bersama Kadin Jawa Timur ini juga menjadi yang pertama digelar di lingkungan Kadin sekaligus memperluas penerapan metode JOA di luar institusi pendidikan.

Setelah menyelesaikan pelatihan dasar, seluruh peserta akan mengikuti tahapan lanjutan dengan melakukan Job and Occupational Analysis secara langsung bersama praktisi industri agar kompetensinya semakin teruji melalui pengalaman di lapangan.

"Kami berharap ke depan setiap penyusunan kurikulum pendidikan vokasi diawali dengan Job and Occupational Analysis. Dengan begitu, kurikulum benar-benar bersifat demand driven, sesuai kebutuhan industri, sehingga lulusan memiliki kompetensi yang relevan dan lebih siap memasuki dunia kerja," tukas Ilham.

Kadin Jatim targetkan jangkau 100 perusahaan

Ketua Umum Kadin Jawa Timur, Adik Dwi Putranto, mengatakan peserta pelatihan, terutama yang berasal dari Kadin Jatim, nantinya bertugas mendampingi industri dalam membangun kolaborasi dengan sekolah, perguruan tinggi, maupun politeknik agar kurikulum yang disusun selaras dengan kebutuhan dunia usaha.

"Kebutuhan industri, terutama di bidang teknologi informasi, berkembang sangat cepat, sementara perubahan kurikulum membutuhkan waktu yang panjang. Karena itu, pendampingan melalui fasilitator JOA menjadi jalan tengah agar kurikulum tetap relevan dengan perkembangan industri," ujar Adik.

Ia menilai harmonisasi kurikulum akan memberikan keuntungan bagi kedua belah pihak, baik dunia pendidikan maupun industri.

Dengan kurikulum yang selaras, lulusan diharapkan memiliki kompetensi sesuai kebutuhan perusahaan. Selain itu, pelaksanaan magang juga diyakini menjadi lebih efektif karena materi yang dipelajari di sekolah maupun kampus telah disesuaikan dengan kebutuhan dunia kerja.

"Melalui Kadin Institute, kami akan mengajarkan bagaimana melakukan harmonisasi kurikulum kepada industri. Di sisi lain, guru dan dosen juga akan kami dampingi agar memiliki pemahaman yang sama dalam menyusun kurikulum berbasis kebutuhan industri," katanya.

Adik menargetkan setiap fasilitator mampu mendampingi sedikitnya 10 perusahaan bersama mitra pendidikannya. Dengan 10 fasilitator yang mengikuti pelatihan perdana, Kadin Jatim optimistis program tersebut dapat menjangkau sekitar 100 perusahaan pada tahap awal sebelum diperluas ke berbagai kabupaten dan kota di Jawa Timur.

"Kami juga akan membekali Kadin kabupaten dan kota agar memiliki kemampuan yang sama. Harapannya, semakin banyak industri yang dapat didampingi sehingga semakin banyak pula sekolah dan perguruan tinggi yang memiliki kurikulum sesuai kebutuhan dunia kerja," pungkasnya.

Nyonya4d

Posting Komentar