Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Kemarau Keringkan Sejumlah Embung di Magetan, 27 Sumber Air Alami Penyusutan

Kemarau membuat 27 sumber air di Magetan menyusut. Sejumlah embung mengering, sementara Sarangan dan Waduk Gonggang masih relatif aman.

embung dan sumber air di Magetan menyusut akibat musim kemarau
Sejumlah sumber air di Magetan mengalami penyusutan debit dan volume selama musim kemarau, termasuk embung dan saluran irigasi. (Dok. RRI)

PEWARTA JATIM — Musim kemarau mulai berdampak pada ketersediaan air di Kabupaten Magetan, Jawa Timur. Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) Magetan mencatat sekitar 27 sumber air mengalami penurunan debit atau volume, dengan beberapa embung kecil bahkan telah mengering.

Sumber air yang terdampak mencakup telaga, waduk, bendungan, hingga embung. Namun, tingkat penyusutannya berbeda-beda sehingga tidak seluruh sumber air berada dalam kondisi yang sama.

Kepala Bidang Sumber Daya Air DPUPR Magetan, Yuli Karyawan Iswahyudi, mengatakan penurunan tersebut terjadi seiring berlangsungnya musim kemarau. Pemantauan tetap dilakukan, terutama terhadap sumber air yang berperan memenuhi kebutuhan masyarakat dan pertanian.

“Secara keseluruhan memang ada sekitar 27 sumber air yang mengalami penyusutan. Kondisinya bervariasi, ada yang masih memiliki air cukup dan ada juga beberapa yang sudah mengering,” kata Yuli.

Sumber air besar masih relatif aman

Dua sumber air utama yang turut mengalami penyusutan ialah Telaga Pasir atau Telaga Sarangan dan Waduk Gonggang di Kecamatan Poncol. Meski terjadi pengurangan volume air yang cukup signifikan, DPUPR Magetan menilai persediaannya hingga kini masih dalam kondisi relatif aman.

Yuli menyebut kedua sumber air tersebut masih memiliki cadangan yang dapat menopang kebutuhan masyarakat serta sektor pertanian untuk beberapa waktu ke depan.

“Untuk sumber-sumber air yang besar seperti Telaga Sarangan dan Waduk Gonggang memang terjadi penyusutan, tetapi sampai saat ini kondisinya masih relatif aman. Airnya masih tersedia untuk kebutuhan yang ada,” ujarnya.

Situasi berbeda terlihat pada sejumlah embung berukuran kecil. Beberapa lokasi telah kehilangan seluruh cadangan air, sedangkan saluran irigasi juga mengalami penurunan debit akibat musim kemarau.

Bahkan, embung yang masih menyimpan air sebagian besar tidak lagi mampu menjadi sumber utama untuk mengairi lahan persawahan. Sisa air lebih banyak digunakan untuk kebutuhan terbatas, termasuk aktivitas pemancingan.

“Kalau embung-embung kecil, ada yang sudah kering. Yang masih ada airnya pun sebagian besar sudah tidak digunakan untuk mengairi sawah,” jelas Yuli.

DPUPR siapkan mitigasi dan atur pola tanam

Menghadapi penyusutan sumber air, DPUPR Magetan melakukan sejumlah langkah mitigasi melalui pemeliharaan rutin infrastruktur sumber daya air. Rehabilitasi ringan serta perbaikan fasilitas, termasuk sumur, juga dilakukan menyesuaikan kondisi di lapangan.

Pengaturan penggunaan air untuk pertanian menjadi perhatian lain karena berkurangnya pasokan dapat memengaruhi pilihan tanaman pada musim tanam berikutnya. DPUPR berkoordinasi dengan Himpunan Petani Pemakai Air (HIPPA), kelompok tani, dan Dinas Pertanian Kabupaten Magetan dalam mengatur pola tanam pada Musim Tanam III.

Yuli meminta petani mempertimbangkan ketersediaan air sebelum menentukan jenis tanaman. Sawah yang tidak memiliki kepastian pasokan air sampai masa panen disarankan tidak dipaksakan untuk ditanami padi.

“Kami mengimbau petani untuk menyesuaikan pola tanam dengan ketersediaan air. Jangan sampai menanam padi tetapi airnya tidak cukup sampai masa panen,” katanya.

Menurut Yuli, lahan yang masih mempunyai akses terhadap sumur air tanah dalam atau berdekatan dengan sumber air yang mencukupi masih memungkinkan digunakan untuk menanam padi.

Sebaliknya, lahan yang diperkirakan mengalami keterbatasan pasokan air diarahkan untuk tanaman palawija. Pilihan tersebut dinilai lebih sesuai dengan kondisi kemarau karena kebutuhan airnya relatif lebih rendah dibandingkan tanaman padi.

“Kalau ketersediaan air tidak mencukupi, lebih baik menyesuaikan dengan tanaman palawija. Ini untuk mengurangi risiko gagal panen,” pungkas Yuli.

Pilihan Redaksi:
Tersalin 👍
PEWARTA Jatim
PEWARTA Jatim
Media online Pewarta.co.id regional Jawa Timur (Pewarta Jatim). Menyajikan informasi berita Jatim terkini up to date.

WARTA JATIM TERBARU

  • Kemarau Keringkan Sejumlah Embung di Magetan, 27 Sumber Air Alami Penyusutan
  • Kemarau Keringkan Sejumlah Embung di Magetan, 27 Sumber Air Alami Penyusutan
  • Kemarau Keringkan Sejumlah Embung di Magetan, 27 Sumber Air Alami Penyusutan
  • Kemarau Keringkan Sejumlah Embung di Magetan, 27 Sumber Air Alami Penyusutan
  • Kemarau Keringkan Sejumlah Embung di Magetan, 27 Sumber Air Alami Penyusutan
  • Kemarau Keringkan Sejumlah Embung di Magetan, 27 Sumber Air Alami Penyusutan