BPBD Jatim Siapkan Modifikasi Cuaca Oktober untuk Cegah Kebakaran Bromo hingga Semeru
![]() |
| BPBD Jawa Timur mempersiapkan operasi modifikasi cuaca untuk menghadapi risiko kebakaran di kawasan pegunungan. (Dok. Ist) |
PEWARTA JATIM — Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Timur memprioritaskan operasi modifikasi cuaca (OMC) untuk menghadapi risiko kebakaran di sejumlah kawasan pegunungan. Operasi tersebut diproyeksikan berlangsung pada awal Oktober 2026 dengan mempertimbangkan perkembangan awan yang dipantau BMKG.
Kepala Pelaksana BPBD Jatim Gatot Soebroto mengatakan kawasan yang menjadi perhatian meliputi Gunung Bromo, Semeru, Arjuno, dan Lawu. BPBD berkoordinasi dengan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) untuk menentukan waktu dan lokasi pelaksanaan OMC.
"Wilayah yang menjadi prioritas di Bromo, Semeru, Arjuno, dan beberapa tahun lalu terjadi di Gunung Lawu. Jadi, itu yang menjadi prioritas kami," kata Gatot saat ditemui di Jemplang, Kabupaten Malang, Minggu (13/9/2026).
OMC bergantung pada kondisi awan
Pelaksanaan modifikasi cuaca tidak dapat dilakukan secara sembarangan karena membutuhkan awan dengan kondisi tertentu agar dapat dimodifikasi. Karena itu, keputusan operasi akan menyesuaikan pemantauan serta rekomendasi BMKG.
"Yang bisa memastikan adalah BMKG, sehingga tetap datanya didukung oleh mereka. Kami berharap bulan depan potensi awan mendukung," ujarnya.
Kepala Bidang Kedaruratan Logistik BPBD Jawa Timur Satriyo Nurseno menambahkan, OMC untuk penanganan karhutla direncanakan pada dasarian awal Oktober. Berdasarkan informasi BMKG Juanda, terdapat potensi pertumbuhan awan di wilayah selatan Jawa Timur pada periode tersebut.
"Rencananya (OMC) pada dasarian awal Oktober. Karena dari BMKG Juanda ada potensi awan di sisi selatan Jawa Timur," kata Satriyo.
Tak hanya untuk kebakaran gunung
OMC juga direncanakan membantu ketersediaan air untuk kebutuhan irigasi, khususnya di wilayah pantai utara Jawa Timur. Namun, pelaksanaannya tidak akan diterapkan secara merata karena kebutuhan tiap daerah berbeda.
Gatot menjelaskan, ada wilayah yang justru memerlukan kondisi kering karena petani sedang memasuki masa panen komoditas tertentu. Kondisi tersebut menjadi pertimbangan dalam menentukan lokasi pelaksanaan OMC maupun kebutuhan penanganan kebakaran dengan water bombing.
"Petani tembakau yang membutuhkan musim panas. Ini menjadi pertimbangan wilayah mana dilakukan OMC dan mana yang perlu water bombing," katanya.
Risiko kekeringan mengancam sejumlah daerah
Jawa Timur memiliki 38 kabupaten dan kota, dengan 24 kabupaten di antaranya telah menetapkan status daerah darurat kekeringan. Kondisi tersebut dinilai berpotensi meningkatkan risiko kebakaran hutan sekaligus mengganggu irigasi pertanian.
Karena itu, strategi penanganan cuaca akan disesuaikan dengan kebutuhan wilayah, baik untuk mengurangi risiko kebakaran maupun menjaga ketersediaan air bagi sektor pertanian.
