Waspada Lonjakan Inflasi AS: Prediksi Dolar AS Naik Tajam di Tengah Krisis Minyak Mentah Global
![]() |
| Dok. Maxco Futures |
PEWARTA.CO.ID, JATIM — Per hari ini Selasa, 7 April 2026, harga minyak mentah berjangka jenis West Texas Intermediate (WTI) dibuka melonjak lebih dari US$ 1 pada hari ini. Lonjakan ini merupakan respon pasar terhadap sikap waspada investor menanti tenggat waktu kesepakatan damai antara AS dan Iran yang ditetapkan Presiden Donald Trump. Sebaliknya, aset safe haven seperti emas spot terkoreksi 0,5% ke angka $4.627,33 per ons, sementara perak merosot 1,2% ke level $71,96.
Berdasarkan situs Logam Mulia Antam, Selasa (7/4/2026), satuan harga emas hari ini yang terkecil ukuran 0,5 gram berada di angka Rp 1.475.000. Sementara harga emas 10 gram dijual dengan harga Rp 27.995.000 dan ukuran emas terbesar yakni 1.000 gram (1 kg) dibanderol Rp 2.790.600.000.
Dilema Keputusan Suku Bunga The Fed: Inflasi vs Daya Beli
Mengamati dinamika pasar keuangan global saat ini yang kembali memasuki fase krusial seiring dengan meningkatnya kekhawatiran terhadap inflasi Amerika Serikat. Maxco Futures menyoroti bahwa pergerakan indeks Dolar AS (DXY) ke depan akan sangat bergantung pada rilis data Consumer Price Index (CPI), yang kini dibayangi oleh lonjakan harga minyak mentah akibat konflik berkepanjangan antara Iran dan Amerika Serikat.
Analis Maxco Futures, Andrew Fischer, menjelaskan bahwa kelangkaan pasokan minyak akibat gangguan geopolitik telah memicu kenaikan harga barang dan jasa secara umum. Kondisi ini menciptakan tekanan inflasi yang signifikan, yang biasanya memaksa Federal Reserve (The Fed) untuk mengambil sikap hawkish atau mempertahankan suku bunga tinggi meski kondisi daya beli masyarakat AS sedang tidak stabil.
"Secara teknikal, kita melihat adanya tanda-tanda perubahan arah tren. Indeks Dolar AS telah menembus garis tren penurunan (bearish trendline), yang menandakan potensi transisi menuju fase kenaikan (bullish). Jika inflasi tetap tinggi, Dolar akan semakin menguat karena imbal hasil yang ditawarkan menjadi lebih menarik bagi investor global," ujar Andrew Fischer dalam ulasan pasarnya, Selasa (07/04).
Lebih lanjut, Andrew juga memberikan statement bahwa harga emas logam mulia diprediksi balik ke level Rp 3 juta per gram pada pekan depan setelah menutup pekan ini di level Rp 2.857.000 per gram pada Sabtu (4/4). Sekali lagi, pendorong kenaikan harga disebabkan perang antara Amerika Serikat (AS) dan Israel lawan Iran yang masih terus memanas, tegasnya.
Saat ini, pasar sedang memperhatikan apakah The Fed akan tetap memperketat kebijakan moneter di tengah masalah lowongan kerja yang melambat. Sebaliknya, jika data inflasi menunjukkan penurunan di luar ekspektasi, pasar akan segera berspekulasi mengenai pelonggaran kebijakan (dovish), yang dapat memicu pelemahan Dolar secara mendadak.

