Madiun Menari 2026 Satukan 5.000 Warga, Beksan Parisuko Jadi Panggung Budaya Kota
![]() |
| Ribuan warga dari berbagai latar belakang mengikuti Madiun Menari 2026 sebagai gerakan budaya bersama di Kota Madiun. (Dok. Ist) |
PEWARTA JATIM — Sekitar 5.000 warga dari berbagai latar belakang bergerak bersama dalam Madiun Menari 2026 yang mengusung tema “Satu Kota, Satu Gerak, Satu Irama”. Kegiatan ini menjadi ruang bersama untuk mengenalkan, mencintai, dan menjaga budaya Kota Madiun.
Plt. Wali Kota Madiun, F. Bagus Panuntun, mengatakan Madiun Menari lahir dari aspirasi masyarakat dan pelaku seni yang menginginkan ruang bersama untuk memperkenalkan budaya lokal secara lebih luas.
“Madiun Menari bukan acara Pemerintah untuk rakyat. Ini gerakan rakyat untuk kotanya,” ujar Bagus.
Menurutnya, masyarakat menjadi kekuatan utama dalam menggerakkan sekaligus menjaga keberlanjutan budaya. Pemerintah Kota Madiun mengambil peran dengan menyediakan ruang dan fasilitas bagi masyarakat untuk berkegiatan.
“Kota Madiun tidak sedang membuat acara. Kota Madiun sedang membangun Gerakan Budaya,” lanjutnya.
Beksan Parisuko menjadi bagian Madiun Menari
Salah satu bagian penting dalam Madiun Menari 2026 adalah Tari Beksan Parisuko, karya seniman Kota Madiun yang digunakan sebagai sarana mengenalkan dan melestarikan budaya lokal, terutama kepada generasi muda.
Tarian tersebut mencerminkan keindahan, kesuburan, rasa syukur kepada Sang Pencipta, kehalusan budi pekerti, kesopanan, serta keselarasan hidup antara manusia dengan alam dan lingkungan.
Bagus menilai pelestarian budaya tidak cukup dilakukan dengan sekadar menampilkan kesenian dalam sebuah kegiatan. Budaya, menurutnya, harus terus dikenalkan, dipelajari, dicintai, dan diwariskan agar tetap hidup di tengah masyarakat.
“Kami tidak sedang membuat acara besar. Kami sedang membangun kebanggaan warga terhadap kotanya melalui budaya,” ujarnya.
Melalui Madiun Menari, masyarakat diajak untuk terlibat langsung, bukan sekadar menjadi penonton. Semangat pelestarian budaya tersebut diharapkan dapat diteruskan melalui sekolah, sanggar seni, komunitas, keluarga, hingga berbagai ruang kreatif lainnya.
“Budaya akan terus hidup ketika masyarakat merasa memiliki, mau mempelajari, mencintai dan mewariskannya kepada generasi berikutnya. Madiun Menari adalah milik masyarakat Kota Madiun,” tuturnya.
Kehadiran ribuan warga dalam satu irama juga menunjukkan ruang kota dapat menjadi tempat ekspresi bersama. Madiun Menari menjadikan Kota Madiun sebagai panggung budaya yang melibatkan masyarakat dari berbagai latar belakang.
“Madiun Menari: 5.000 Warga Bergerak, Satu Kota Menjadi Panggung. Harapannya Madiun Menari menjadi awal tumbuhnya gerakan budaya yang terus hidup di tengah masyarakat,” pungkasnya.
Menjadi penanda dimulainya Spectra Night
Madiun Menari 2026 sekaligus menandai dimulainya Spectra Night, sebuah ruang terbuka yang rencananya digelar rutin setiap bulan sebagai wadah bagi masyarakat dan komunitas untuk melakukan kegiatan positif, kreatif, dan edukatif.
Spectra Night diharapkan menjadi ruang bersama yang hidup, aman, tertib, sekaligus memperkuat interaksi sosial masyarakat. Untuk menjaga kenyamanan ruang publik, kawasan Spectra Night tidak diperuntukkan bagi aktivitas berjualan.
Pemerintah Kota Madiun telah menyiapkan sejumlah lokasi bagi pelaku UMKM dan pedagang, di antaranya Lapangan Gulun, Bundaran Taman, serta titik-titik lainnya.
